4 Hal Ini yang Menyebabkan Italia Tidak Lolos Piala Dunia

Jadi pelajaran penting nih buat Gli Azzuri di masa depan

4 Hal Ini yang Menyebabkan Italia Tidak Lolos Piala Duniareuters.com

Italia dipastikan tidak lolos ke piala dunia 2018 di Rusia tahun depan karena kalah di babak playoff kualifikasi piala dunia melawan Swedia. Italia kalah agregat 1-0 karena di pertandingan pertama Gli Azzuri dikalahkan Yellow Viking 1-0 dan bermain imbang 0-0 di leg ke-2.

Kegagalan Negeri Pizza berpartisipasi di ajang 4 tahunan tersebut adalah yang pertama kali sejak 1958. Saat itu Italia gagal bersaing dengan Irlandia Utara di kualifikasi. Hal ini ironis karena Azzuri adalah Negara tersukses dalam ajang piala dunia dengan 4 kali juara (1934, 1938, 1982, 2006) dalam 18 kali keikutsertaanya.

Ada 4 penyebab mengapa Italia gagal melaju ke Rusia tahun depan berdasarkan pengamatan terhadap peforma Timnas Azzuri selama kualifikasi piala dunia 2017, berikut ulasanya:

1. Satu grup dengan Spanyol di babak kualifikasi.

cetusnews.com

Tidak bisa dipungkiri bahwa satu grupnya Italia bersama Spanyol adalah sebuah kesialan yang menghalangi Italia menjadi juara grup agar bisa lolos langsung ke Rusia. Kalau saja tidak ada Spanyol maka mungkin Azzuri sudah menjadi juara grup G dan mendapat tiket ke Rusia. 

Hal itu disebabkan kualitas materi pemain Tim Matador yang diatas Italia. Sementara materi tim asuhan Giampiero Ventura ini hanya diisi oleh pemain muda yang minim pengalaman dan bukan kualitas pemain kelas dunia seperti Spanyol. Pemain super di skuat Italia hanya tersisa pada diri Buffon, Bonucci, Chielini, dan De Rossi yang masa ke-emasanya sudah lewat.

Kondisi tersebut tak ayal membuat Italia kesulitan bersaing dengan Spanyol, Immobile dkk harus susah payah menahan gempuran Morata cs di pertandingan pertama yang berakhir imbang 1-1 dikandang dan kalah telak 0-3 di Spanyol.

2. Para pemain senior Italia tidak respek kepada Ventura.

mediotiempo.com

Faktor kedua adalah tidak respeknya para pemain senior Italia terhadap pelatih Giampiero Ventura. Pemain seperti Buffon, De Rossi, Bonucci, dan Barzagli pasti mempunyai pikiran bahwa mereka lebih hebat daripada Ventura yang sebelumnya hanya pernah melatih tim-tim medioker di Italia dan belum pernah memenangi scudetto apalagi piala dunia.

Mungkin analoginya seperti ini “Apa yang sudah kau raih bersama Timnas Italia? Juara Dunia? saat di klub, apa kau pernah meraih scudetto? Kami para pemain senior sudah merasakan juara dunia dan scudetto! Jadi apa hakmu mengatur kita!” begitu kira-kira relasi pemain senior Azzuri dengan Ventura jika dianalogikan.

Giampiero memang tidak pernah membesut klub besar seperti Juventus, AC Milan, atau Inter di Serie-A. Klub yang terakhir dilatihnya sebelum jadi juru taktik Azzuri adalah Torino, klub papan tengah yang tidak punya prestasi.

Dari curiculum vitae yang dimiliki Ventura itu, jangan harap mendapat respek dari pemain senior. Punggawa senior masih mau bermain bersama timnas di bawah rezim Ventura karena mereka adalah pemain profesional, tapi mereka tidak pernah sudi dilatih oleh pelatih kelas dua seperti Ventura.

Di awal masa kepelatihannya, Ventura sudah tidak dihormati pemain. Striker Graziano Pele terlihat menolak berjabat tangan dengan Ventura saat diganti di babak kedua kala menjamu Spanyol di babak kualifikasi.

Ditambah lagi para pemain senior meragukan strategi Ventura saat melawan Swedia, sampai De Rossi menolak pemanasan oleh asisten pelatih dan meminta Insigne yang dimasukkan, hal itu merupakan indikasi bahwa pemain senior tidak menaruh respek kepada si tua Ventura.              

3. Italia tidak punya pemain kreatif.

skysports.com

Semenjak Pirlo memutuskan untuk pensiun setelah Piala Dunia 2014, Italia tidak lagi memiliki pemain kreatif yang bisa membuat perbedaan ketika tim dalam posisi tertinggal dan mengalami kebuntuan.

Marco Veratti yang diprediksi bakal menggantikan Pirlo ternyata kualitasnya tidak sehebat itu. Veratti tidak memiliki kecerdasan, insting, dan skill sebagus seniornya. Alhasil lini tengah Italia saat ini hanya diisi oleh “kuli angkut” bukan “seniman kreatif” seperti Pirlo.  

Itu terlihat baik di pertandingan pertama dan kedua melawan Swedia, permainan Gli Azzuri gampang terbaca dan hanya mengandalkan dua sisi sayap tanpa ada solusi dari lini tengah dalam upaya membongkar pertahanan rapat Swedia.     

4. Azzuri tidak bermain layaknya tim besar.

thesun.co.uk

Permainan yang ditunjukkan skuat Italia selama kualifikasi piala dunia 2017 tidak memperlihatkan bahwa mereka adalah tim besar yang haus kemenangan. Paradigma permainan pragmatis Italia masih belum juga berubah di era sepakbola moderen ini.

Setelah memiliki keunggulan skor, Italia malah mengendurkan serangan bermain santai dan tidak mempertahankan intensitas tinggi seperti sebelum membuat keunggulan. Karena gaya main tersebut membuat Italia sering kecolongan gol di akhir pertandingan seperti saat berjumpa Makedonia.

Andrea Pirlo juga mengkritik peforma Italia tersebut yang menyebutkan bahwa pemain Gli Azzuri seharusnya menunjukkan penampilan 100% saat membela timnas, namun mereka tidak punya kemauan untuk bermain 100% untuk negara.

Namun nasi sudah menjadi bubur. Italia harus memupus ambisinya masuk ke piala dunia 2018. Kegagalan ini seharusnya menjadi pemicu FIGC (PSSI-nya Italia) untuk memberi kesempatan pada pemain mudanya untuk membela timnas. Para pemain senior sudah saatnya pensiun dan memberikan jalan bagi juniornya yang lebih ambisius, fresh, dan mempunyai gaya dan visi bermain lebih moderen dibanding seniornya.

Dwiki Libra

Support Local Football!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Read More
Register IDN Times Community
ARTIKEL REKOMENDASI